
Foto : Warga Inamosol Terasa Keluar Dari Keterisolasian Menuju Kemakmuran, Ketika Gubernur Siap Bangun Jalan
SBB, suaratabaosonline.com - Ada kalanya sebuah kebijakan publik tidak sekadar menjadi berita biasa, melainkan sebuah titik balik peradaban ekonomi di suatu daerah.
Keputusan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, untuk merealisasikan akses jalan di Kecamatan Inamosol menghubungkan jalur Waimital hingga Manusa adalah salah satu momen bersejarah itu. Ungkap Verry. V. Jacob/Suitela Sekertaris Hena Hetu SBB yang akrab di sapa Bung Veja, kepada sejumlah media di Ambon sore tadi, Sabtu 28/03/2206
Menurutnya" Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, Ini adalah sebuah lompatan nalar strategis yang membuktikan bahwa seorang pemimpin benar-benar membaca peta persoalan hingga ke akarnya. Selama puluhan tahun, warga di tiga desa penyangga Rumberu, Rambatu, Manusa hidup berhadap-hadapan dengan ironi paling pahit, mereka duduk di atas gunungan emas hijau (damar), tetapi tak bisa menjangkaunya karena jalan yang menjadi mimpi buruk. Terangnya
Pasalnya" Kini, dengan satu keputusan berani, Hendrik Lewerissa telah memerintahkan untuk memecahkan tembok isolasi itu.
Selama ini kami disibukan dengan membangun gedung-gedung megah di kota, namun lupa bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sesungguhnya justru tertidur di pedalaman.
Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, potensi pohon damar di kawasan ini berkisar antara 100.000 hingga 300.000 pohon. Satu pohon damar dewasa bisa menghasilkan getah 80–150 kg per tahun.
Dijelaskan-nya" Damar adalah tanaman Ajaib, ia berproduksi sepanjang tahun tanpa mengenal musim, tidak mudah busuk, tidak menyusut, dan bisa disimpan bertahun-tahun, Di pasar Kairatu, harga damar stabil di angka Rp20.000 per kilogram.
Jika hanya 100.000 pohon yang dieksploitasi dengan produksi minimal 80 kg per tahun, maka volume produksi mencapai 8 juta kilogram per tahun, Dalam setahun, uang yang berputar dari komoditas ini mencapai Rp160 miliar.
Selama ini, uang sebesar itu terkunci di hutan karena biaya logistik yang menghabiskan margin keuntungan petani, Jalan rusak bukan sekadar masalah fisik, ia adalah tax implisit paling kejam bagi rakyat kecil. Jelasnya
Dikatakan-nya" Dengan pembangunan jalan aspal yang diprakarsai Pak Hendrik Lewerissa, struktur biaya transportasi akan runtuh, Petani tidak lagi harus kehilangan sebagian besar pendapatan hanya untuk ongkos angkut, Nilai tambah akan langsung dinikmati oleh masyarakat di tingkat tapak.
Namun, kejeniusan kebijakan ini tidak berhenti di situ, Bagi daerah, ini adalah mesin pencetak PAD yang luar biasa, Jika Pemerintah Provinsi dan Kabupaten memungut retribusi atau pajak daerah sebesar 10 persen dari nilai perputaran ekonomi tersebut, maka:
10% x Rp160.000.000.000 = Rp16.000.000.000
Rp16 miliar per tahun hanya dari satu komoditas (damar) di satu kecamatan (Inamosol). Bebernya
Angka ini belum termasuk potensi dari komoditas lain seperti pala, cengkeh, dan kopra yang selama ini juga terhambat oleh akses yang sama.
Hendrik Lewerissa menunjukkan bahwa dirinya memahami hukum ekonomi kerakyatan yang paling mendasar, akses adalah segalanya, Tidak ada gunanya memiliki sumber daya alam melimpah jika rakyatnya tidak memiliki akses untuk menjualnya.
Keputusan ini juga merupakan pesan tegas bahwa pembangunan Maluku tidak boleh lagi bersifat urban-centric, Pembangunan harus masuk ke kecamatan, ke desa, ke titik-titik di mana selama ini negara absen, Inamosol bukan sekadar nama kecamatan, ia adalah simbol dari sekian banyak wilayah di Maluku yang menunggu keadilan infrastruktur.
Gubernur Hendrik Lewerissa,
Kami menyaksikan dengan seksama. Ketika banyak pemimpin terjebak dalam euforia proyek-proyek seremonial yang berbiaya besar namun berdampak kecil, dirinya memilih jalan yang sulit tetapi fundamental, Bapak memilih untuk membuka isolasi, membangun konektivitas, dan yang terpenting memberikan harapan.
Terobosan di Inamosol ini adalah sebuah doktrin baru, bahwa kemakmuran Maluku tidak akan datang dari gedung-gedung pencakar langit, tetapi dari hutan-hutan yang terhubung dengan pasar melalui jalan yang layak.
Aspal yang akan terhampar di Waimital hingga Manusa bukan sekadar bahan tambal sulam, ia adalah urat nadi ekonomi yang akan memompa darah segar ke seluruh tubuh perekonomian daerah.
Di akhir keterangan-nya Bung Veja mengucapkan Selamat, kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Teruslah berpikir jenius, teruslah berpihak pada rakyat di pelosok, Karena di sanalah sesungguhnya Maluku yang sejati yang selama ini sabar menunggu pemimpin yang berani membuka jalannya menuju masa depan. Tutupnya (L, 1)