
Foto : Pendidikan Jadi Perhatian Gubernur Maluku, Akses Bukan Sekedar Angka, Tapi Nyawa Pembangunan
Ambon, suaratabaosonline.com - Perhatian Dalam politik pembangunan, seringkali kita terjebak pada euforia proyek fisik yang megah.
Jembatan dibanggakan, gedung-gedung menjulang dipotret, namun yang paling sunyi justru yang paling fundamental, pendidikan.
Namun, di tanah kepulauan yang bertabur tantangan geografis ini, Gubernur Maluku menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal membangun tembok, tapi membangun harapan.
Kata Sekertaris Hena Hetu SBB Verry. V. Jacob/Suitela yang akrab di sapa bung Veja menyampaikan" Hanya dalam rentang waktu satu tahun 2025 hingga 2026 terjadi lompatan yang jarang terjadi di kawasan Seram Bagian Barat. Ucapnya
Berdasarkan data hangat dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah dan Kejuruan SBB, Bapak Nofi Lessil, M.Pd, ada satu hal yang tak bisa diabaikan keberpihakan yang konkret, bukan sekadar wacana.
Bayangkan, di wilayah-wilayah yang selama ini berstatus 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) seperti Nuruwe, Taniwel Pegunungan, hingga Saluku di Huamual kini berdiri tiga gerbang masa depan baru SMAN 31 Nuruwe, SMAN 32 Taniwel Pegunungan, dan SMAN 33 Saluku, Tiga nama besar yang bukan sekadar bangunan, melainkan titik nadi peradaban baru.
Bung Veja mengatakan" Belum cukup sampai di situ, di era digital yang menuntut keterampilan presisi, Gubernur juga mengakselerasi pendidikan vokasi dengan melahirkan SMK Informatika Alhilal Kamal. Satu langkah cerdas yang memotong rantai keterbelakangan dengan pisau skill.
Ini bukan sekadar soal memberi izin operasional, Ini adalah keberanian untuk memastikan bahwa anak-anak di pedalaman Seram tidak perlu menempuh perjalanan laut berhari-hari hanya untuk mengenyam pendidikan menengah.
Ini adalah strategi halus namun cerdas dan tajam memerangi kemiskinan dari akarnya, dengan cara mendekatkan sekolah pada mereka yang paling membutuhkan.
Kepedulian yang ditunjukkan oleh Gubernur Maluku ini bukanlah sebuah pencitraan.
Jika kita membaca datanya dengan tajam, ini adalah grand strategy pendidikan berbasis keadilan, Di tengah sempitnya anggaran dan kompleksnya birokrasi, beliau memilih untuk memecah kebuntuan dengan memberikan payung hukum (izin operasional) yang selama ini sering menjadi kendala klasik di daerah.
Kepala Cabang Pendidikan menengah SBB, Bapak Nofi Lessil, menyebut ini sebagai perhatian khusus, Tapi mari kita sebut dengan nama yang lebih tepat ini adalah revolusi akses. Ucapnya
Dalam satu tahun, bukan hanya gedung yang lahir, tapi harapan yang dibangun, Gubernur Maluku seakan berkata Jangan tunggu daerahnya maju baru kita bangun sekolah. Bangun sekolahnya, maka daerah itu akan maju dengan sendirinya.
Jika pembangunan fisik adalah denyut nadi ekonomi, maka pembangunan pendidikan di SBB ini adalah detak jantung peradaban Maluku yang baru, Dan itu, dimulai dari keberanian membuka pintu bukan hanya gerbang sekolah, tapi pintu kesempatan yang selama ini tertutup. Pungkasnya (L, 1)