Gawat,,, Amelia Nurhadi Diduga Aktor Kunci Penjebakan Kapus AL Di Kasus Korupsi PKM Inamosol Yang Sedang Mencuat Ke Publik - SUARA TABAOS ONLINE


ARTIKEL LAIN

Deskripsi gambar

Minggu, 10 Mei 2026

Gawat,,, Amelia Nurhadi Diduga Aktor Kunci Penjebakan Kapus AL Di Kasus Korupsi PKM Inamosol Yang Sedang Mencuat Ke Publik

Foto : Gawat,,, Amelia Nurhadi Diduga Aktor Kunci Penjebakan Kapus AL Di Kasus Korupsi PKM Inamosol Yang Sedang Mencuat Ke Publik

SBB
, suaratabaosonline.com - Dugaan korupsi yang disebut berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif di Puskesmas Inamosol kini semakin menjadi sorotan. Mantan Kapus Jefry dituding berada di balik skenario untuk menjatuhkan Kepala Puskesmas saat ini, Alexander Lesil, demi menutupi dugaan penyimpangan anggaran yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.


Nama Amelia Nurhadi kini muncul sebagai sosok sentral. Ia diduga mengetahui sekaligus mengendalikan sejumlah alur penggunaan anggaran program kesehatan, termasuk dana PMT Gizi yang belakangan memunculkan banyak kejanggalan administrasi. 


Pada April 2025, Amelia disebut mengembalikan sisa dana PMT Gizi sebesar Rp30 juta kepada Kapus Alexander Lesil dan bendahara baru, padahal dalam laporan per 31 Desember 2024 anggaran tersebut telah dinyatakan habis terpakai. 


Anehnya, praktik serupa kembali terjadi pada Januari 2026 saat Amelia kembali menyerahkan sisa dana sebesar Rp23,5 juta yang sebelumnya juga dilaporkan nihil dalam tutup buku 2025.


Muncul dugaan kuat bahwa laporan keuangan program yang dibuat pada masa sebelumnya bersifat fiktif. 


Fakta adanya sisa dana setelah laporan dinyatakan habis menimbulkan pertanyaan besar mengenai ke mana aliran anggaran selama ini dan bagaimana pola pengelolaannya dilakukan bertahun-tahun di Puskesmas Inamosol.


Tak hanya soal anggaran, Amelia Nurhadi juga diduga menjadi aktor di balik upaya menjebak Alexander Lesil melalui rekaman percakapan yang kini beredar. 


Amelia disebut sengaja mengarahkan pembicaraan dan melontarkan pertanyaan - pertanyaan tertentu agar jawaban Alexander dapat dipelintir seolah merupakan instruksi penyalahgunaan anggaran. Padahal, menurut sejumlah sumber internal, seluruh detail penggunaan dana dan administrasi program saat itu justru lebih banyak dijelaskan dan diketahui oleh Amelia sendiri selaku pihak yang mengelola keuangan program pada masa tersebut.


Di sisi lain, ada spekulasi yang mencuat sekaligus, dalam kondisi ini yang dinilai menghilangkan fungsi pengawasan internal dan membuka ruang besar terjadinya penyimpangan keuangan. 


Dugaan perjalanan dinas fiktif, pemotongan anggaran pegawai berkedok akreditasi, hingga adanya “jatah tetap” pimpinan dari setiap pencairan program turut memperkuat indikasi praktik korupsi berjamaah di lingkungan Puskesmas.


Pegawai senior menilai serangan terhadap Alexander Lesil merupakan bentuk perlawanan dari pihak-pihak lama yang merasa terganggu dengan upaya pembenahan birokrasi dan tata kelola keuangan di Puskesmas Inamosol. 


Dengan anggaran Puskesmas yang disebut mencapai sekitar Rp1,5 miliar per tahun, publik kini mendesak aparat penegak hukum segera membongkar dugaan skandal tersebut secara transparan dan menyeluruh. (Tim)

BERITA LAIN