Ambon, suaratabaosonline.com — Gemerlap lampu panggung memantul di tengah Lapangan Merdeka Ambon. Ribuan warga masih bertahan menikmati penutupan Festival New Benteng Victoria, Selasa (08/09/2026) malam.
Musik, sorotan lampu, serta penampilan artis tamu membuat suasana semakin meriah. Dari kejauhan, malam penutupan festival itu tampak seperti sebuah perayaan yang berjalan sempurna.
Namun, di antara riuh tepuk tangan dan suara musik, ada cerita lain yang dialami sejumlah awak media, Cerita itu bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: kursi.
Sejumlah jurnalis yang sejak awal diarahkan oleh pihak penyelenggara untuk menempati kursi di area undangan, tiba-tiba diminta meninggalkan tempat duduk ketika acara seremonial berakhir dan kegiatan memasuki sesi hiburan.
Alasannya, kursi tersebut akan digunakan oleh keluarga Ketua DPRD Kota Ambon yang disebut hadir sebagai undangan, Bukan karena kursinya rusak. Bukan pula karena area tersebut harus dikosongkan seluruhnya, Kursi itu tetap ada. Hanya saja, penggunaannya kemudian diperuntukkan bagi pihak lain.
Bagi sebagian orang, persoalan tersebut mungkin terlihat sepele. Hanya soal tempat duduk dalam sebuah acara hiburan, Tetapi bagi jurnalis yang berada di lokasi, persoalannya terasa lebih dari sekadar kursi.
Mereka datang ke Lapangan Merdeka bukan untuk menjadi penonton biasa. Mereka membawa kamera, alat perekam, telepon genggam, dan catatan untuk menjalankan tugas jurnalistik, Kehadiran mereka pun bukan tanpa dasar. Para awak media berada di lokasi setelah mendapat undangan untuk melakukan peliputan.
Sejak awal, mereka bahkan telah diarahkan untuk menempati kursi yang tersedia lalu, ketika acara berganti sesi, muncul permintaan agar tempat tersebut dikosongkan.
Pertanyaan pun muncul di antara para jurnalis, Apakah kursi di area undangan hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu?Ketika acara seremonial selesai, apakah tugas wartawan juga dianggap selesai? Dan kenapa cara penyampaian nya seperti itu?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena para jurnalis masih harus bekerja ketika sesi hiburan dimulai. Mereka tetap perlu mengambil gambar, merekam suasana, mencatat jalannya acara, hingga mengabadikan penampilan para artis.
Bagi wartawan, justru sesi hiburan sering menjadi bagian penting dari sebuah liputan festival, Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seorang wartawan harus duduk atau berdiri, Yang menjadi perhatian adalah cara komunikasi dan penghargaan terhadap tugas mereka.
Sejumlah jurnalis yang berada di lokasi merasa cara penyampaian salah satu anggota EO Cerita Kita ketika meminta mereka meninggalkan kursi terkesan kurang santun.
Permintaan untuk berpindah tempat sebenarnya dapat disampaikan dengan cara yang lebih baik, terlebih ketika sebelumnya para wartawan memang telah diarahkan untuk duduk di lokasi tersebut.
Sebab, komunikasi dalam sebuah kegiatan publik menjadi bagian penting dari profesionalitas penyelenggara.
Tidak ada persoalan jika memang terdapat kursi yang secara khusus diperuntukkan bagi pejabat, keluarga pejabat, atau tamu tertentu, Namun, pengaturan tersebut semestinya telah ditentukan sejak awal dan disampaikan secara jelas kepada seluruh pihak yang hadir.
Dengan begitu, tidak terjadi situasi ketika seseorang sudah diarahkan duduk, kemudian diminta berdiri ketika acara telah berlangsung, Situasi di area VIP malam itu juga menjadi perhatian, Sejumlah ajudan dan petugas protokol dari unsur Forkopimda terlihat menempati kursi yang tersedia.
Sementara itu, beberapa awak media yang sebelumnya menempati kursi atas arahan pihak penyelenggara justru harus meninggalkan tempat duduk mereka, Pemandangan itu menyisakan kesan yang kurang nyaman.
Pers berdiri, sementara kursi tetap tersedia, Di tengah kemeriahan festival, pengalaman tersebut menjadi catatan tersendiri bagi para jurnalis, Padahal, pers hadir bukan untuk meminta perlakuan istimewa, Wartawan tidak datang dengan tuntutan harus mendapatkan kursi VIP atau tempat khusus melebihi tamu lainnya.
Yang dibutuhkan sebenarnya sederhana, ruang yang layak untuk bekerja, komunikasi yang santun, serta penghargaan terhadap profesi jurnalistik, Sebab, seorang wartawan yang datang ke sebuah kegiatan membawa kamera bukan semata-mata untuk menikmati pertunjukan.
Ia datang untuk bekerja, Ia berdiri di antara kerumunan, mencari sudut gambar terbaik, mencatat peristiwa, mewawancarai narasumber, dan kemudian membawa cerita dari lokasi acara kepada masyarakat.
Festival New Benteng Victoria sendiri tetap berlangsung meriah. Penampilan para artis tamu berhasil menghidupkan suasana Lapangan Merdeka Ambon dan menghibur masyarakat hingga malam.
Tidak ada yang mempersoalkan kemeriahan itu, Namun, kesuksesan sebuah festival sejatinya tidak hanya diukur dari megahnya panggung, ramainya penonton, atau banyaknya artis yang tampil.
Ada hal lain yang tidak kalah penting, bagaimana penyelenggara memperlakukan orang-orang yang ikut memastikan sebuah kegiatan diketahui dan dinikmati masyarakat luas.
Pers merupakan bagian dari ekosistem sebuah kegiatan publik, Melalui pemberitaan, sebuah festival tidak berhenti ketika lampu panggung dipadamkan. Ceritanya berlanjut ke ruang-ruang masyarakat, menjadi informasi, dokumentasi, sekaligus catatan perjalanan sebuah kota.
Karena itu, persoalan kursi di malam penutupan Festival New Benteng Victoria mungkin terlihat kecil.
Tetapi dari kursi itulah muncul pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana sebuah event memandang dan menghargai insan pers, Pada akhirnya, wartawan tidak sedang meminta tempat istimewa, Mereka hanya ingin diperlakukan dengan layak ketika sedang menjalankan tugas.
Sebab ketika seorang jurnalis datang membawa kamera, alat perekam, dan buku catatan, ia datang bukan sekadar untuk mencari kursi, namun ia datang untuk bekerja.
