Verry Jacob : Langkah Seremonial groundbreaking Terlihat Jadi Komoditas Pencitraan Politik Jangka Pendek - SUARA TABAOS ONLINE

ARTIKEL LAIN

Deskripsi gambar

Senin, 13 Juli 2026

Verry Jacob : Langkah Seremonial groundbreaking Terlihat Jadi Komoditas Pencitraan Politik Jangka Pendek


Ambon
, suaratabaosonline.com - Proyek Blok Masela di Maluku jangan terjebak dalam pusaran politik teatrikal menjelang tenggat target operasional.


Langkah seremonial groundbreaking yang dilakukan kelihatan hanya menjadi komoditas pencitraan politik jangka pendek. Ungkap salah satu tokoh muda MBD Verry Jacob yang akrap di sapa Veja


Kata Veja" Sebab, kesiapan teknis dan   keekonomian riil tidak menunjukkan kesiapan yang matang, Begitu juga dengan kesiapan finansial terutama yang menjadi kewajiban PHE Masela terkait dukungan dari Danantara. Ungkap Veja


Dikatakan-nya" Hal itu dikatakan ibu Enggelina kepada sejumlah wartawan di Jakarta bahwa" dalam industri hulu migas, struktur pembiayaan apapun namanya, trustee borrowing atau On-Lending, atau lainnya, pada akhirnya begitu operator mengadakan cash call, maka pertanyaannya hanya satu  'Apa dananya ada'?" jelas Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, Senin (13/6/2026).


Veja mengungkapkan" Selain itu, kata Engelina, kehadiran aparat keamanan di lapangan Blok Masela juga perlu dipertanyakan, Kalau pendekatan keamanan yang dikedepankan ini berarti akan menyudutkan masyarakat lokal.


"Rakyat jangan ditekan untuk mendukung proyek tanpa mempertimbangkan hak atas tanah dan ruang lingkup kehidupannya,"  ujarnya.


Engelina membandingkan kehadiran militer pada masa awal Permina yang cikal bakal Pertamina di Pangkalan Brandan tahun 1950an, Saat itu, tentara tidak bekerja untuk kepentingan investor, tapi tentara teknik (genie pioner) yang dikirim untuk memperbaiki kilang yang rusak akibat perang. 


"Sekarang apa relevansinya aparat keamanan di Blok Masela? Itu kita bisa anggap menekan rakyat untuk jangan macam-macam, Ini negara dikelola kok seperti begini? Rakyat itu bukan musuh tapi mitra strategis, Jadi, jangan rampas tanah rakyat," tegas Engelina yang menyaksikan sendiri perbaikan kilang Pangkalan Brandan tahun 1959an ini. Jelas Veja


Veja juga menambahkan" Ditanyai mengenai potensi konflik agraria di lokasi kilang Blok Masela, Engelina mengatakan potensi sudah menunjukkan gejala nyata.


Untuk itu, katanya, perlu dorongan progresif untuk mengubah pendekatan pengadaan lahan dari metode konvensional seperti ganti rugi lalu gusur menuju skema penyertaan modal, dimana tanah rakyat  menjadi saham. 


"Menurut saya tanah menjadi saham adalah jalan tengah terbaik untuk mewujudkan keadilan agraria, Dengan skema ini, relasi rakyat dengan tanahnya tidak putus, Rakyat tidak menjadi mantan pemilik lahan tapi pemilik selamanya yang berhak menerima dividen berkala secara lintas generasi. Ucapnya


Menurut Engelina, dari aspek ekonomi politik, skema ini akan menaikkan posisi tawar masyarakat adat untuk menjadi mitra strategis korporasi, Rakyat bukan sekadar objek mitigasi dampak sosial. Pengelolaan sahamnya pun bisa dilakukan secara komunal seperti melalui Koperasi Adat atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).


Tapi, kalau tanah rakyat diklaim sebagai tanah negara untuk melegitimasi pengambilalihan ini dengan sendirinya akan menuai konflik tak berkesudahan dan akan menjadi duri bagi operasional Blok Masela.


Metode ganti rugi, jelas Engelina, menyebabkan relasi rakyat dengan tanahnya langsung putus setelah transaksi selesai, Uang tunai yang diterima bakal habis dalam beberapa tahun untuk konsumsi, yang pada gilirannya meninggalkan masyarakat tanpa aset produksi dan tanpa ruang hidup.


"Kalau tanah jadi saham, ​rakyat tidak kehilangan hak ekonomis atas tanah leluhur dan  tanah ditempatkan sebagai kapital utama yang nilainya terus melekat pada proyek, sehingga rakyat Maluku di laham proyek akan menerima dividen berkala. Ini menciptakan kesejahteraan lintas generasi dan bukan kemiskinan pasca-proyek. Ini pilihan bagi para penguasa. 


Dalam pengalaman di berbagai tempat, metode ganti rugi dan gusur menjadikan rakyat di posisi yang rentan ditekan instrumen negara demi dalih kepentingan umum yang memicu konflik berkepanjangan, Persoalannya, rakyat menjadi korban, sehingga perlu rakyat menjadi mitra dan memiliki suara dalam batas tertentu dan menjadi bagian dari entitas bisnis.


"Tapi, kalau negara melihat masyarakat lokal sebagai gangguan sosial, sehingga perlu kirim aparat ya persoalan dengan masyarakat lokal tidak akan selesai. Solusinya, rakyat harus jadi mitra bisnis strategis yang kelangsungan hidupnya berkelanjutan bersama proyek, termasuk keberlanjutan kepemilikan lahannya. 


Engelina menyadari, skema konversi lahan menjadi saham ini butuh terobosan untuk membongkar hambatan birokrasi. Sebab, skema Production Sharing Contract (PSC) migas buta realitas sosial, sehingga tidak mengenal kepemilikan saham berbasis tanah lokal. 


Hal ini, katanya, diperparah logika gampang dari penguasa yang lebih menyukai metode pembebasan lahan dengan uang tunai demi mengejar target seremonial cepat tanpa pedulikan dengan kemiskinan struktural jangka panjang masyarakat lokal, Jadi, ada perbedaan kepentingan masyarakat lokal dan proyek yang perlu dicarikan titik temu.


Diakhir keterangan-nya kepada media ini, Veja mengatakan bahwa Engelina menegaskan tanpa adanya keberanian politik (political will) baik dari penguasa lokal maupun penguasa nasional, maka rakyat  lokal  di lapangan akan dipaksa mengalah demi aliran gas yang keuntungannya terbang ke luar daerah.


"Indikasi pemaksaan sudah menunjukkan gejala dengan pengerahan aparat keamaman di sana. Iya kan, kalau tidak untuk apa mereka di sana. Mau perang dengan siapa, kalau bukan untuk mengintimidasi rakyat. Pungkasnya (tim)

BERITA LAIN